Saturday, December 19, 2015

Kata mereka ini (malam) Minggu


Aku suka malam minggu, saat aku melihat buih senyumanmu tergores pada langit malam
Aku suka malam minggu, saat angin malam menghapus tangisanmu di pinggir pantai kala itu
Dan aku suka malam minggu, cara kita berbagi cerita melalui genggaman yahoo messanger

Ingatkah kamu saat itu?
Saat bagi mereka ini adalah malam minggu
Kita menggenggam angin dan tawa yang begitu dalam
Hingga kita lupa akan jalan pulang
Lalu mengecup ingin kuulang

Hei gadis manis, aku sungguh merindukan malam-malam kita,
Yang kata mereka itu adalah malam minggu


Friday, November 20, 2015

Hari ini aku malas berbenah

Hari ini aku malas berbenah
malas sekali
Hingga kubiarkan ruangan ini kosong tanpa siapapun

AC kubiarkan nyala
Lampu-lampu tetap mengerjap
TV lalu lalang bicara sendiri

Hari ini Jumat
Biasanya aku segera berlari tepat pukul 4
Hanya untuk mengejar rindu-rindu
Pada waktu yang beradu-adu

Hari ini aku malas berbenah
Sudah pukul 4 lewat tiga puluh delapan
Dan aku tidak gelagapan
Hanya duduk termangu

Diam sunyi bersama layar
yang sedari tadi menatapku sedih
Ah, tidak.
Layar sedang menertawaiku.
Sama saja.

Langit sore hari ini penuh dengan andai-andai
Sungguh penuh dengan janji-janji yang melangit
Tak tersentuh dan menyebalkan

Ah..hari ini aku malas berbenah

(Salemba, dua puluh bulan sebelas)


Monday, November 16, 2015

Photos from Belitung - Indonesia


I took some photos on holliday last month. Belitung was a beautiful place...  

Tambang Kaolin



Pulau Lengkuas

Kepayang Island

Good view from boat when crossing to the island

Andrea Hirata Museum







Hujan tak menangis






















Perempuan itu menangis tersedu-sedu
Sungguh ia tak ingin berlari dalam hujan
Ingin ia menari seindah-indahnya
di tengah rintik yang kian deras

Bukan, bukan ia membenci hujan
Ia hanya mencinta hujan dalam tangisnya
Dengan begitu, ia tak terlihat menangis
tapi sedang bergembira akan hujan

Ada yang menghujamnya dengan kencang
sangat kuat hingga ia nyaris tak bisa berdiri
tak sanggup untuk melangkah
dan kini ia berdiri di tengah derasnya air dari langit

Ia seperti alat penyimpan maaf dan sesal
Hampir overload
Upaya telah sirna
Raga telah hampa
Harapan tinggal bayangan

Perempuan itu masih menari
Bergoyang sambil meronta
Menikmati rerintikan yang membasahi tubuhnya
Rambut, dahi, mata, hidung, dagu, leher, dan turun ke tubuhnya
Segalanya telah kuyup
demikian hasratnya
Basah mengasah perih

(Salemba, pada Jakarta yang basah)

Saturday, October 3, 2015

Romantic Prewedding

Finally, my friend got married next week!
Here the result of pre-wedding photos.
Photos taken and edited by me
Enjoy!






Saturday, November 15, 2014

Sharing: Pengakuan Seorang Supir Taxi (Part II)


 Semenjak saya menjadi freelancer studio fotografi, saya mengenal seorang supir taxi langganan bos saya. Saya baru mengenalnya sekitar awal tahun 2014. Usianya sudah hampir mendekati kepala empat. Tubuhnya agak gemuk dan kepalanya botak plontos. Seringkali ia mengenakan peci namun ia sendiri tidak menumbuhkan jenggot apalagi kumis. Wajahnya terlihat bersih dan pembawaannya ramah. Ia sering bolak balik studio untuk mengantar bos saya. Tidak hanya mengantar, pembawaannya yang ramah juga membuat dirinya dekat dengan si bos. Buktinya, ia sering masuk ke studio meski hanya duduk dan menyeruput secangir kopi. Saya pribadi sebagai anak baru mencoba untuk dekat dengan Pak Junawa (nama disamarkan). Kedekatan makin terasa karena Pak Junawa senang guyon dan saya yang juga menimpali.

Cukup banyak hal yang saya ketahui tentang kehidupan Pak Junawa. Ia dulunya seorang pemimpin dalam sebuah kantor di bagian listrik. Ia lulusan S1 elektro dan sekarang ia memutuskan untuk menjadi seorang supir taxi. Mengapa jadi supir taxi? Ceritanya begini. Ketika ia menjabat menjadi kepala kelistrikan, anak buahnya tersetrum kabel telanjang dan membuat pekerjanya tersebut meninggal. Sekitar 7 orang meninggal ketika kejadian tersebut.

Ada 2 orang yang masih sempat meninggalkan pesan akhir. Orang pertama: ingin dikuburkan ke kampung halaman. Orang kedua: meminta untuk anak istrinya dijaga. Pak Junawa kemudian mengerjakan permintaan kedua pekerjanya tersebut. Orang pertama dibawa ke kampung halaman dimana Pak Junawa sendiri yang membawa kendaraan. Sementara orang kedua, hingga saat ini masih dibiayai anak dan istrinya oleh Pak Junawa sebagai bentuk tanggung jawab. Pak Junawa pribadi tidak ingin menikahi si janda beranak satu tersebut. Baginya, itu adalah tanggung jawab yang harus diemban hingga akhir hayat. Namun bagaimana pun, seorang janda yang ditinggal seorang suami dan melihat ada laki-laki yang bertanggung jawab justru makin tertarik. Bagaimana tidak, ia minta dinikahi oleh Pak Junawa. Tetapi Pak Junawa menolak. Hal yang juga mengejutkan adalah, istri Pak Junawa merelakan untuk dimadu. Sontak Pak Junawa menolak. Ia tidak ingin poligami. Singkat cerita, saat ini Pak Junawa menanggung si janda beserta anak dan anak istri Pak Junawa.

Selepas kepergian anak buahnya yang meninggal di depan matanya tersebut, Pak Junawa mengalami traumatik dan tidak ingin bekerja di bidang listrik lagi. Ia menghukum dirinya untuk bekerja sebagai supir taxi di Jakarta.

Suatu hari Pak Junawa tidak muncul lagi di studio. Ia jarang datang, hingga akhirnya tak muncul. Belakangan saya ketahui, ia pulang kampung untuk mengurus proses perceraiannya dengan sang istri. Ia memiliki 2 orang anak perempuan dan nantinya anak tersebut diambil hak asuk oleh sang istri. Pak Junawa mendapat pinjaman uang dari si bos untuk pulang ke kampung. Usut punya usut, istrinya telah memiliki kekasih lain dan sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan Pak Junawa yang sibuk mencari uang di Jakarta. Hm, kalau dipikir-pikir LDR (long distance relationship) untuk orang yang berkeluarga sangat berat ya. Sekitar 1 bulan Pak Junawa tak ada kabar. Hilang dari peredaran.

Saya sudah tidak melihat Pak Junawa lagi sekitar 1,5 bulan. Nomor HP nya pun sudah tak aktif lagi. Hingga akhirnya saya terkejut, saat melihat Pak Junawa di studio bersama si bos. Saya tidak banyak bertanya dan lebih bertegur sapa saja. Saya hanya mendengar kabar dari kawan di studio, bahwa proses perceraian Pak Junawa telah selesai. Si anak sendiri juga mengetahui bahwa ibunya telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Kini, Pak Junawa kembali menjadi bujang. Ia berusaha tegar, namun ada kekosongan di dalamnya. Hal terberat adalah ketika harus berkelana sendiri di Jakarta kota metropolitan dengan pendapatan tak seberapa, ditambah perceraian yang menimpanya, belum lagi dengan anaknya yang mungkin akan sulit ia temui lagi.    

Pertengahan tahun 2014. Pacar saya datang ke Jakarta dan menginap di hotel Zodiak. Berhubung ia pergi karena urusan kantor, saya lah yang pergi ke sana untuk bertemu. Berencana untuk jalan-jalan ke Kemang hingga akhirnya kami harus selesai larut malam karena tersasar. Sekitar pukul 10 malam saya harus stay di hotel untuk menunggu Pak Junawa menjemput. Kebetulan ia sedang kosong dan bisa datang ke hotel Zodiak menjemput saya. Sekitar pukul 10.30 malam Pak Junawa tiba. Ia menatap saya curiga. Larut malam di hotel bersama pacar saya. Ya, tidak dapat dipungkiri orang lain akan berpikir apa dengan melihat kondisi saya saat itu. Andai dia tahu, bahwa saya dari Kemang dan tersasar karena mencari sebuah alamat.

Saya masuk ke dalam taxi dan duduk di depan. Bagi saya Pak Junawa bukanlah orang asing dan tidaklah pantas bagi saya untuk duduk di belakang. Bermula bincang-bincang tentang kemacetan Jakarta, hingga akhirnya obrolan berujung pribadi.
            “mba Icha tahu Rara?” (nama si wanita disamarkan).
            “ya aku tahu. Cewek langganan bapak itu kan.” Rara adalah pelanggan tetap Pak Junawa. Hampir setiap hari Rara berlangganan. Dari rumah ke kampus, kampus ke rumah, hingga untuk urusan jalan-jalan. Pak Junawa bagai supir pribadi.  Rara adalah anak orang kaya tapi sang ayah telah meninggal. Ia tinggal bersama ibunya dimana sang ibu juga sudah mengenal dekat Pak Junawa.
            “Rara hamil mbak. Hamil di luar nikah. Pergaulannya begitu kan.”
            “wah, emang tuh anak nggak main aman pak? Haha” saya berusaha santai
            “halah. Yang anak aman-aman aja juga bakal kebobolan kan” tidak tahu apakah pak Junawa menyindir saya karena saya pulang malam dari hotel bersama pacar.
            “ya paling nggak, si Rara itu main amanlah biar nggak hamil. Terus kata mamanya apa Pak?”
            “saya nggak tahu. Udah nggak kontak dengan mereka lagi.”
            “ohh..gitu”

Perbincangan terus berlanjut hingga akhirnya Pak Junawa memulai kalimat,
            “mbak Icha tahu nggak, janda itu lebih nggak bisa nahan hasrat dibanding duda”
            “bukannya malah sebaliknya? Laki-laki yang nggak bisa nahan nafsu. Makanya ada yang bilang perempuan bisa hidup dengan kekasihnya tanpa sex, sementara laki-laki bisa berpacaran dengan seorang cewek tanpa rasa cinta tapi yang penting bisa nge sex”
            “nggak gitu. Janda itu gatel mbak.”
            “nggak ah” saya masih mempertahankan statement.
            “kalau nggak gatel nggak mungkin dia bisa bertingkah” Pak Junawa mulai celoteh. “kalau nggak gatel, ngapain mamanya Rara naro tangannya di penis saya” Pak Junawa juga mempertahankan argumen. “mamanya Rara minta dilayani. Tapi saya nggak mau dibayar. Saya mau melayani tapi saya nggak mau kalo dikasih uang. Saya nggak butuh.” Saya terdiam mendengar cerita Pak Junawa. “banyak yang begitu mbak. Para Janda itu emang gatel. Minta dilayanin. Tapi saya sih nggak mau pungut biaya.”
            “hmm gitu” artinya, bukan hanya 1-2 janda. Baiklah. Satu gambaran lain tentang Pak Junawa. Satu sisi yang berbeda. Satu torehan baru yang saya ketahui tentang dirinya.
            “bagi saya sama-sama puas udah cukup. Saya marah kalo dibayar.”
            “hmm gitu” otak saya berpikir cepat. Artinya pak Junawa tetap memasang harga diri tanpa adanya tarif. Tetap terlihat wibawa, juga cukup “mahal” untuk memperoleh “pelayanan”.
            “saya lagi deket sama perempuan mbak. Orangnya bawel banget. Dia ngundang saya makan malam di rumahnya. Tapi saya nggak bisa karena harus jemput mbak.”
            “waaah, saya minta maaf deh pak. Hehe.” 
            “orangnya ya gitu deh. Bawel. Gatel juga dia. Haha”

Selepas itu, perjalanan yang sebentar lagi tiba di rumah, Pak Junawa mengisinya dengan candaan tentang pacar barunya itu. Ia mengaku sudah trauma dengan perempuan cantik. Katanya, waktu dia sedang masa jaya, istrinya sangat perhatian dan cinta mati. Tetapi ketika ia menjadi jatuh dan runtuh, seolah cinta itu sirna. Sang istri lebih banyak menuntut dan tidak memberikan dukungan moril. Sekarang, pacar barunya tersebut berbadan gemuk dan tidak terlalu cantik. Well, candaan tersebut menjadi bumbu menarik menutup perbincangan kami di tengah heningnya malam di hari Sabtu.

Setibanya di rumah, saya hanya bisa menghela napas panjang. Baru saja saya mengetahui cerita lain dari kehidupan Pak Junawa. Sisi yang tidak saya ketahui sebelumnya. Saya tidak ingin menjadi orang yang sok suci dan menyalahkan apalagi menghakimi Pak Junawa.  Hal terpenting adalah belajar. Kita bisa belajar dari siapa pun. Dari orang yang memiliki profesi atas hingga bawah. Dari orang terpelajar hingga tak berpendidikan. Ya, setiap manusia punya sisi hitam. Setiap manusia punya kisah pahit. Hidup ini mengajarkan kita untuk menjadi orang yang bijak. Menjadi orang yang matang. Menjadi orang yang tangguh. Sabar. Bersyukur. Pemaaf.

Kita bisa jadi hitam saat mengikuti hitam. Dan menjadi putih saat berkomitmen untuk mengambil putih. Pilihan ada di genggaman masing-masing. Untuk memilah dan memilih.


Setelah kejadian itu, saya tidak bertemu dengan Pak Junawa lagi. Ia juga tak memunculkan batang hidung di studio semenjak ada “pertengkaran kecil” dengan si bos. Nomor Pak Junawa sudah tidak aktif lagi. Pak Junawa tak kuketahui keberadaannya. Hingga saat ini.

Sharing: Pengakuan Pelatih Les Nyetir (Part I)



Have you ever meet someone that you will not meet him again, and he talks everything about his life?

Kejadian ini sering kali saya alami, dimana saya bertemu dengan seseorang dan kemudian ia menceritakan segalanya seolah-olah saya ini adalah sahabat terdekatnya. Seru memang, bertemu dengan seseorang yang baru dan menceritakan berbagai hal. Saya jadi belajar melihat sudut pandang yang baru di samping cerita yang baru pula.

Sekitar tahun 2012 saya mencoba untuk belajar les nyetir di daerah Depok (nama tempat disamarkan) dan mendaftarkan diri untuk lima kali pertemuan. Hari pertama saya belajar les nyetir, pelatihnya laki-laki muda sekitar 29 tahun. Tinggi tubuhnya sekitar 165 cm, berkulit sawo matang, dan rambut pendek berombak. Raut wajahnya tajam dan keras, seperti menunjukkan karakter yang kuat dan kepala batu. Ia mengenakan polo shirt dan jeans belel namun tetap terlihat cukup rapih untuk seorang pelatih. Mulanya ia mengajari bagaimana arah untuk gigi 1, gigi 2, dan seterusnya. Setelah saya mulai mengingat letak gigi 1 hingga 5 dan mundur, mesin menyala dan mulai berjalan langsung ke jalan raya. Selang lima menit berjalan, saya mulai berbasa basi untuk berkenalan menanyakan namanya.

            “namanya siapa mas?”
            “saya Wawan” (bukan nama sebenarnya)
            “saya Andi. Tapi biasa dipanggil Icha.”
            “oh..orang Makassar ya?”
            “iya mas. Tapi udah besar di Jawa. Jadi muka saya juga nggak keliatan kalo orang Sulawesi.” Saya berusaha untuk memaparkan penjelasan singkat.

Selama perjalanan, saya tidak banyak bercerita. Saya hanya menjadi pendengar setia. Mas Wawan bercerita tentang kehidupan sehari-hari hingga agama. Ia antusias saat mengetahui bahwa pemikiran saya terbuka terhadap agama. Tidak kaku dan lebih luwes. Hingga akhirnya ia mulai menceritakan hal yang privat. Tentang dirinya.
           
            “mba Icha, saya ini dulu pernah punya pacar.” Mas Wawan memulai ceritanya dengan pancingan kehidupan pribadi. Saya hanyalah pendengar setia yang siap mendengar ocehannya dari detik ke menit. Berusaha agar setiap kata yang ia lontarkan merupakan hal menarik agar ia bisa lebih banyak bercerita. Bukan bermaksud untuk menjadi pendengar yang “fake”, tapi dengan melihat kita antusias ia akan lebih banyak membuka ceritanya. “pacar saya dulu adalah anak yang saya latih. Anaknya cantik. Masih kuliah. Baru-baru masuk kuliah. Anak orang berada. Kuliahnya di univeristas swasta dan saya tahu itu bagus.”
            “waah..lalu?” mulai terdengar menarik. Semacam skandal yang terasa manis namun pahit akhirnya.
            “tapi dia kurang kasih sayang. Orang tuanya sibuk. Jadi dia cari perhatian. Perhatian itu dia dapat dari saya mbak.” Mas Wawan bercerita santai seolah olah itu adalah hal biasa. “pertemuan pertama sih terasa biasa ya. Pertemuan berikutnya seperti ada yang menarik kami berdua untuk akhirnya memutuskan berpacaran.” Ia masih bercerita di tengah heningnya suasana mobil dan saya yang serius belajar menyetir. “kami saling suka mbak,” jelasnya.
            “waah begitu ya” cukup memberikan jawaban singkat saja agar ia bisa melanjutkan ceritanya.
            “pada akhirnya kami sering bertemu di luar jam les. Saya tahu, dia anak orang berada. Dan saya ini nggak ada apa-apanya. Apalah saya ini. Tapi saya tahu, dia anak yang kesepian. Butuh kasih sayang.” Mas Wawan semakin menunjukkan hasratnya untuk mengisahkan si wanita tersebut. “dan saya jadi rajin di ajak ke rumahnya. Rumahnya sepi mbak. Orang tuanya jarang di rumah.”
            “hmm..” saya mulai membaca arahnya. Sebentar lagi sepertinya aka nada adegan seru. Yah, mungkin. Tapi 99% akan seru.
            “sampe akhirnya saya masuk kamarnya. Dia minta disetubuhi. Saya awalnya ragu. Tapi, ya gitu deh. Semuanya ngalir gitu aja. Dari pertama, hingga lama-lama jadi keseringan.” Gumam mas Wawan.
            “hahaha..” saya hanya tertawa kecil. Tidak ada lagi reaksi yang bisa saya berikan.
            “tapi sepertinya hubungan kami jadi ketahuan sama orang tua dia.” Mas Wawan menghela napas panjang. Well, pada akhirnya bangkai yang busuk akan tercium juga kan?
            “oh gitu. Terus mas Wawan putus?”
            “akhirnya dia nikah mbak. Sama lelaki lain. Saya tahu, saya ini bukan apa-apa. Dia anak yang terpandang. Terakhir saya bertemu dia, dia sudah hamil. Tapi saya tahu, dia masih suka sama saya” mas Wawan terlihat sangat percaya diri.
            “oh ya? Toh dia sudah hamil dan punya suami sekarang. Yasudahlah”
            “iya mbak Icha. Sekarang saya sama tante-tante yang udah punya suami” mas Wawan menceritakan halaman lain dalam hidupnya.
            “Wow. Emang tante-tante nya suka sama mas Wawan? Jangan-jangan cuman sms biasa aja lagi.”
            “nggak. Emang dia suka sama saya kok”

Perbincangan kami terhenti. Waktu les 2 jam telah selesai dan kami tiba di tempat les, tempat awal kami memulai latihan. Bagaimana pun, cerita mas Wawan hari ini cukup mencengangkan. Tapi saya tetap berusaha santai di depannya. Saya tidak bisa menjudge dia salah, fatal, dan berdosa. Bagi saya, mas Wawan adalah sosok dewasa dimana ia sudah tahu baik dan buruknya sebuah perkara. Ya, privasi masing-masing saja. Dia tidak mengganggu saya, demikian sebaliknya.

Setelah pertemuan itu, saya sudah tidak bertemu dia lagi. Pelatih saya berganti. Well, semoga saya bisa mendengar kabar baik dari mas Wawan. Suatu hari nanti.