Wednesday, February 6, 2013

Belajar dari sebuah kehilangan



“kehilangan seseorang seperti kehilangan tangan yang sebelah. Seperti kurang lengkap”

Bulan lalu, tepatnya tanggal  23 Januari saya berkesempatan untuk melakukan presentasi bersama teman-teman lainnya di hotel FM7 yang tak jauh (bahkan sangat dekat) dari bandara Soekarno-Hatta. Di sana, saya dan ketiga teman yang berada di bawah naungan pembimbing mempresentasikan hasil sementara penelitian skripsi.  ya, setidaknya kami sempat dag-dig-dug juga. Karena merasa penelitian sementara masih sangat dangkal. Apalagi presentasinya di depan para professor. Sebut saja, guru besar dari universitas Amsterdam (sebut saja Bu Prof Amsterdam), serta prof dari Univ.Hasanuddin Makassar.


"Susana Hotel FM7"
Foto diperoleh dari:
http://www.hotels.com/ho324660/fm7-resort-hotel-jakarta-indonesia/


Presentasi ini dilatarbelakangi oleh si Bu Prof Amsterdam yang sedang melakukan penelitian di lima negara. Penelitian dapat dikatakan sebagai penelitian yang cukup besar karena juga didanai oleh negara kincir angin itu. So far, keren abis lah si Bu Prof Amsterdam bisa nembus proyeknya untuk didanai negara. Mengingat penelitian ini masih jarang dilakukan (antropologi medis), maka Bu Prof Amsterdam dan Makassar ingin melihat sejauh mana hasil yang sudah kami peroleh dalam penelitian. Saya dan ketiga teman lain memiliki objek yang berbeda. Ada yang meneliti tentang waria, pelajar akademi, penjaja seks, maupun pekerja salon.
Presentasi yang kami pikirkan “formal dan menegangkan” ternyata seperti diskusi biasa saja. Ketika kami tiba di hotel, kami memasuki ruangan rapat yang sudah disiapkan proyektor. Nuansa ruangan juga sangat “nyaman”. Nyaman yang saya maksud di sini adalah: format kursi letter U, AC dingin mantap, makanan terus merayap satu persatu memasuki ruangan. Pokoknya TOP BGT deh. Suasana diskusi sangat menyenangkan. Kami memprestasikan hasil penelitian masing-masing dan mendapatkan masukan dari para Prof tersebut. Oh ya, saya lupa menyisipkan tokoh lain. Dalam ruangan tersebut juga ada pembimbing skripsi dan salah satu dosen dari Sosiologi yang ingin melanjutkan post doktoral di Malaysia.

Presentasi sempat di potong pada jam istirahat. Kami makan siang bersama di restoran hotel. Apa rasanya makan semeja bersama para peneliti. Saya sendiri tidak terbayang duduk makan bersama mereka serta mendengarkan obrolan satu dengan yang lain. Saya lebih banyak diam dan berbincang bersama dosen pembimbing. Mengingat belum akrab dengan para bu Prof. Paling, saya hanya bertanya terkait penelitian yang dilakukan Bu Prof Amsterdam. Ia mengatakan bahwa sedang mencari tambahan peneliti karena memang penelitian yang dilakukan adalah jangka panjang. “And you must prove your English”  begitu katanya menutup perbincangan sambil tersenyum ramah.

Pukul 16.00 sore. Kami berempat pulang dan ikut bersama si dosen Sosio. Kebetulan beliau bawa mobil dan pulang arah srengseng. Saat masuk mobil, saya membuka pembicaraan. Mulai dari kegiatan penelitian saat ini dan studi apa saja yang telah beliau raih. Dulunya Bu Dosen ini (sebut saja begitu) S1 di Sosio.  Lanjut S2 dan S3 di Amsterdam melalui beasiswa. Saat ini berencana untuk ambil post doktoral di Malaysia akhir bulan Januari. Kalo dilihat-lihat dari face nya sih mungkin beliau saat ini berusia 40-an tahun. Tapi mukanya masih keliatan muda kok. Selama perjalanan, Bu Dosen banyak sharing pengalaman. Dulunya, tema skripsinya tentang keputihan pada kalangan PSK di bawah umur.

"Sebuah rintik dalam jiwa yang rintih"
Foto diperoleh dari: vgladding.blogspot.com


Cerita lanjut cerita, kami bercerita tentang Bu Prof dari Amsterdam. Ternyata suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dari pernikahannya tersebut dikaruniai satu orang anak.  Saat ini Bu Prof Amsterdam sibuk melakukan penelitian kesana kemari. Anaknya sih mungkin udah mandiri kali ya ditinggal mama nya. Kalau dipikir-pikir, Bu Prof Amsterdam ternyata punya memori “kehilangan” di balik wajah ramahnya. Tak lama kemudian, teman-teman saya yang lain turun dari mobil. Sisa saya yang terakhir duduk menumpang. Saya pun menceritakan tante teman saya yang suaminya meninggal beberapa minggu setelah menikah. Kemudian, suasana agak hening. Saat Bu Dosen yang menyetir memandang ke depan dan mengatakan dengan santai .

“suami saya juga sudah meninggal dua tahun yang lalu”. Ia tak terlihat sedih. Perbincangan ini seperti diskusi santai di tengah keheningan mobil yang terus melaju dalam gerimis yang terus menurus.
“suami saya kena serangan jantung. Gak lama setelah naik sepeda. Kami pacarannya lama, 16 tahun. Ya pacarannya lama soalnya agak susah juga ya, beda agama kita. Lucunya, pacaran 16 tahun, nikahnya baru 5 tahun. Temen-temen saya suka ngeledek gitu.” Saya terdiam.

"sebuah memori dalam hujan yang gerimis"
Foto diperoleh dari: lifehacker.com 

 “sekarang saya tinggal sama ponakan aja. saya gak punya anak. Nikah juga telat kan, 37 tahun.” Saya cuman bisa ngangguk melihatnya dari belakang terus mengemudi dalam kondisi santai. Saya tak tahu betul, ia santai dalam sedih atau bagaimana.

“suami saya meninggal pas ketika saya mau sidang S3 di Belanda. Sempat bingung juga harus lanjut atau nggak. Tapi saya punya dua pilihan, sedih mengenang suami saya atau terus maju dan selesaikan S3 yang sebentar lagi. Selama di sana saya fokus untuk selesaikan. Baru deh, setelah semua selesai berasa dia udah nggak ada. Berasa tadi malam baru planing ini itu, besoknya dia udah meninggal.”

Saya tidak bisa berkata-kata. Lebih tepatnya hanya terbengong-bengong melihat Bu Dosen yang nampak tangguh di balik stir.

Saya pun berucap: “saya salut dengan orang-orang yang tangguh yang terus bergerak dan move on meski telah kehilangan pasangan hidup. Jujur, saya salut.”
Mobil terus melaju di tengah keheningan antara saya dan Bu Dosen. Hanya gerimis yang berdiskusi. Bernyanyi kecil. Menemani kami di tengah bisu dan haru.

Ya, banyak di antara kita yang pernah merasakan kehilangan. Tapi tidak banyak darinya yang mau untuk move on, berjalan, dan terus meraih cita dan harap. Bagaimana mungkin seseorang yang telah kehilangan seorang suami bisa begitu tangguh untuk langsung terbang ke Belanda dan menyelesaikan S3? Lagi-lagi, si tangguhlah yang sanggup untuk terus melangkah bahkan berlari. Tak berlarut dalam kesedihan yang tak berkesudahan. Tapi terus melaju menerima dan menggapai. Apakah Anda termasuk dalam bagiannya?

2 comments:

Uppe said...

it's cool to be able to write in such loooooong post. gue kesulita nih bikin tulisan panjang-panjang. :)

andinurfaizah said...

haha, bisa aja uppeeee XD