Tuesday, February 22, 2011
Quote for today
"Just relax. Take a deep breath and imagine positive way..that's will be okay, yes!"(andinurfaizah)
Saturday, February 19, 2011
Thursday, February 17, 2011
Kakap putih Asam manis
COOKING TIMEEE!!! haha
berdasarkan rasa iseng dan coba2, berikut resepnya:
Bahan:
- Kakap putih
Bumbu
- Bawang Bombay
- Bawang putih cincang
- Daun Jeruk
- Daun salam
- Saos Tomat
- Kecap Manis
- Garam
- Tepung terigu di larutkan
- air
Cara Buat:
1. Sirami ikan dengan air jeruk terlebih dahulu (supaya gak amis)
2. Kukus ikan (biar empuk coooy)
3. Lumuri ikan yang telah di kukus dengan tepung terigu, merica halus, dan garam
4. Goreng ikan dengan sedikit minyak saja lalu sisihkan
5. Tumis bumbu sampai harum dan biarkan mengental (kuahnya dikit aja)
6. Siram ikan dengan bumbu
Selesai!
Selamat mencobaaa :D
Wednesday, February 9, 2011
Birthday Book
I make special book for my special friend, names Mhiersa in her birthday. I collect birthday greeting from our friend in senior high school, there's also some nice picture in that book :)
So, happy birthday Mhiersa...
(The made that book in 2009)
Sunday, February 6, 2011
Friday, February 4, 2011
Orientalism Reconsidered by Edward W.Said
Ola olaaa!!! :D
You can download the journal for free by click the title
Happy reading, happy study :)
Info:
Orientalism Reconsidered
Author(s): Edward W. Said
Source: Cultural Critique, No. 1 (Autumn, 1985), pp. 89-107
Published by: University of Minnesota Press
SeaWorld!!!
Wednesday, February 2, 2011
Sarung Gendongan Boneka
Waktu itu gw lagi nginep di rumah kakak. Walhasil, paginya gw ngalungin sarung Bali sambil duduk-duduk tiap bangun tidur. Kegiatan ini udah beberapa kali gw lakukan dan tiba-tiba ponakan gw yang umur 1th minta minjem sarung gw. Gw mikir aja gitu, anak kecil jaman sekarang gaya bener minta ngalungin sarung Bali juga. Ehh..taunya buat beginian: (Jegeeerrrr!!!!) Mungkin ini efek samping dari ngeliat mbak-mbak komplek di sore hari yang ngasih makanan buat si anak majikan

Tuesday, February 1, 2011
Debaran jantung GIGI

Bermula dari mulut gw yang senat senut. Terasa aneh namun menyiksa. Makan susah, pedih terus ku rasa. haha!
Sepulang dari Bali, gw buru-buru ke dokter gigi di daerah Depok sekitar seminggu yang lalu.
Dokter : "kenapa nih?" (tanya nya dengan lembut. Senyumnya tulus tapi tetep aja bikin gw gemeteran)
Gw : "kayaknya gigi geraham ku bolong dok. Terus bikin dinding mulutku jadi iritasi dan sariawan gede" (ini mah analisis ecek-ecek gw doang!)
beberapa menit kemudian setelah dokter melakukan pemeriksaan..
Dokter : "oh, ini mah nggak bolong. Tapi pertumbuhan geraham kamu yang nggak normal. Mengarah ke dinding mulut dan melukainya. Ini harus dicabut"
JENG JENG! DICABUT?!!?! OH NOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!
Ya maklum, jarang banget gw ke dokter gigi. Terakhir waktu SMA bersihin karang gigi. Terakhir cabut gigi juga pas kecil itupun di cabutin sama bokap.
Gw : "hm, gak ada cara lain ya dok?"
Dokter : "ya harus di cabut. Nanti akan terus seperti ini dinding mulut nya terus luka" (makin lama senyumannya kayak senyum setan. gw ngeri)
Setelah gw mikir-mikir lagi, ya harus di cabutlah sudah si gigi ku itu. Gw paling anti liat jarum suntik.
Gw : "dok, proses apa yang harus dilalui untuk cabut gigi?" (gw nanya lagi. Kalo gw yang jadi dokternya, bakal gw getok pake jarum suntik kalo ketemu pasien macem gini)
Dokter : "nanti di suntik lokal dulu. Nggak sakit kok." (lagi-lagi si dokter senyum saking sabarnya)
Gw : "yawda deh dok, cabut aja. Tapi bisa matiin AC nggak? saya kedinginan." (sumpreett!!! gw makin nyebelin!)
Nggak lama asisten si dokter matiin AC. Dan di mulailah penggerayangan gigi geraham gw yang paling belakang itu. Di mulai dari suntik sana sini di mulut gw. Sakit rasanya, menyiksa jiwa dan jasad! Setelah di suntik menuju pencabutan gigi, gw mulai berulah lagi.
Gw : "dok, ada yang bisa di pegang ga? Saya butuh sesuatu buat di pegang" (WHAT THE HELL!?!?! Kacrut banget deh. Sumpeh, gw pengen make topeng monyet saat itu juga. Mungkin nyokap gw yang ikut dalem ruangan udah gak sudi nganggep gw anak saking malu nya ama dokter)
Si asisten bingung nyariin sesuatu buat gw pengang. Alhasil gw yang bikin alternatif sendiri. Ambil handuk ijo yang tersedia deket kursi pemeriksaan. Setelah itu, gigi geraham gw di tarik pake alat gitu yang gw gak tau nama alatnya apa karena gw MEREM! hahaha!!! pas gw buka mata, gigi gw udah kecabut dan gak berasa. Mungkin karena suntik lokal. Gw jadi ketagihan.
Gw : "dok, gak sekalian bersihin karang gigi nih?!"
Dokter : "belum bisa. Mestinya tadi sebelum cabut gigi. Selasa depan aja dateng lagi yaaa" (masih ramah. bener-bener dokter yang satu ini sabarnya nauju bile!)
Berhubung si dokter akrab ama nyokap gw pas mau keluar ruangan gw curi denger tuh
Nyokap gw : "makasih ya dok, selasa depan nanti dateng lagi" (nyokap gw akhirnya lega juga gigi gw di cabut)
Dokter : "iya bu, sama-sama. Ternyata anak ibu ngocol juga. hahaha"
Emang deh, dokter Indri is the best! Sampai jumpa selasa depan dok!
(ups, sekarang kan hari selasa. Berarti hari ini! haha...)
Monday, January 31, 2011
Luwu, South Sulawesi - Indonesia
Luwu, South Sulawesi, Indonesia - First time I go to this place when I'm still at elementary school. Before going there, my family and I must go to Palopo city and go by jonson (small ship with diesel machine). Beside that route, we can go by car to go to Luwu. But at that time, the road not good enough. Also, there's no electricity. So, if the day going dark we using pelita (small lamp with petrol). But, last day I go there at 2010 conditoin going good. There's no jonson road and replacing by road route also there's electricity in that village.
Gift Giving in Anthropological Perspective by John F. Sherry, Jr
Here we go! You can find about gift giving (The Gift theory by Marcel Mauss) in Antrhropological Perspective in this journal.
Just click the title and download it for free :)
Info:
Gift Giving in Anthropological Perspective
Author(s): John F. Sherry, Jr.Source: The Journal of Consumer Research, Vol. 10, No. 2 (Sep., 1983), pp. 157-168
Just click the title and download it for free :)
Info:
Gift Giving in Anthropological Perspective
Author(s): John F. Sherry, Jr.Source: The Journal of Consumer Research, Vol. 10, No. 2 (Sep., 1983), pp. 157-168
Gifts, Commodities, and Social Relations: A Maussian View of Exchange by James Carrier
That's the journal talk about The Gift theory by Marcel Mauss. If you need to make it reference, you can download it for free by clicking the title
Happy reading, happy studying
Enjoy :)
info:
Gifts, Commodities, and Social Relations: A Maussian View of Exchange
Author(s): James CarrierSource: Sociological Forum, Vol. 6, No. 1 (Mar., 1991), pp. 119-136Published by: SpringerStable
Happy reading, happy studying
Enjoy :)
info:
Gifts, Commodities, and Social Relations: A Maussian View of Exchange
Author(s): James CarrierSource: Sociological Forum, Vol. 6, No. 1 (Mar., 1991), pp. 119-136Published by: SpringerStable
Sunday, January 30, 2011
Wednesday, January 26, 2011
Sunday, January 16, 2011
Saturday, January 15, 2011
Anywhere
Malangke village-Palopo, South Sulawesi
(Caption: When I'm still primary school maybe in 2001, we need jonson (small boat with diesel machine) from Palopo city. Last time I go to that village in 2010 and there's no waterways. So just land ways and some of the road have using concrete. Most of people in there using wooden house to life although some of them using stone house)
Anyer beach, Serang-Banten (April 2010)
Thursday, January 13, 2011
Bergerak Lenyap akan suatu yang kelam
Juli 2008
Rheina menatap gantungan hp itu. Kecil dan mungil. Biru bergambar tokoh kartun kegemaran anak-anak. (Doraemon)
Dulu, senyuman selalu menghiasi tatapan Doraemon. Tapi tidak sekarang. Luntur dan Kering.
Hanya asa dan perih yang terlintas saat mengingat berbagai gumpalan kenangan bersama benda itu.
"dulu iya, tidak sekarang" ujar Rheina sembari melepas gantungan itu. Sakit iya, tapi harus. Bukan hanya melepaskannya dari hp namun sekaligus melepas segala memori yang terlekat di hati Rheina.
Januari 2009
Awal tahun baru yang dimulai dengan rasa yang imajiner dan kosong. Untuk sekian kali pipi Rheina basah akan tangisan. Tidak kali ini.
Ia harus bertindak tegas akan segalanya. Termasuk membunuh segala ingatannya akan si doraemon serta orang di baliknya.
Sedih memang tapi tidak mungkin akan terus seperti itu.
"sudahlah" Rheina menghela napas panjang dan meletakkan benda itu ke suatu tempat yang takkan ia lirik lagi.
Pikiran Rheina berkecambuk antara marah dan pasrah. Mungkin sudah takdirnya begini. Mungkin akhir dengan kehadiran "seseorang baru" menjadi segelintir rasa pahit di ujung hubungan. Mungkin Rheina adalah penengah yang akan mengantarkan kekasihnya itu ke tangan yang lain. Tangan yang lebih tepat nan lekat. Rheina mengakui bahwa ini bukan kisah yang kental akan rasa manis. Karena berakhir dengan bisu dan sembilu.
"kepada video yang dibuatkan khusus untukku, buku buatan tangan khusus buatku, lampu doraemon bersama dorami, dan semuanya..terima kasih" sahut Rheina merapikannya dan menyimpannya. "sudah saatnya kalian beristirahat dan bersembunyi untuk waktu yang lama. Sudah lelah kalian bermain di antara senang dan gembiraku"
Rheina terperanjat. Mengucapkan syukur. Bahwa ia masih memiliki berbagai orang di belakangnya. Keluarga dan teman-teman yang tak dapat ia sebutkan satu persatu. Semuanya memiliki peran masing-masing untuk bermain dalam kisah pendek Rheina. Semuanya sebagai protogonis di tengah bagian yang tragis.
"untuk seorang wanita yang sempat menganggap saya adalah perebut lelakimu, ambillah dia. pergilah." Rheina berdeham sejenak. "aku telah memutuskan untuk memilih jalanku sendiri. Sungguh bodohnya aku untuk menunggu keputusan orang lain. Mengharapkan jawaban orang lain. Tidak. Inilah hidupku dan akulah yang putuskan jalanku"
Rheina berjalan pelan, pergi meninggalkan segala pahitnya. "ini akan berubah menjadi manis bila tiba pada waktunya" ucapnya sambil tersenyum getir.
Rheina menatap gantungan hp itu. Kecil dan mungil. Biru bergambar tokoh kartun kegemaran anak-anak. (Doraemon)
Dulu, senyuman selalu menghiasi tatapan Doraemon. Tapi tidak sekarang. Luntur dan Kering.
Hanya asa dan perih yang terlintas saat mengingat berbagai gumpalan kenangan bersama benda itu.
"dulu iya, tidak sekarang" ujar Rheina sembari melepas gantungan itu. Sakit iya, tapi harus. Bukan hanya melepaskannya dari hp namun sekaligus melepas segala memori yang terlekat di hati Rheina.
Januari 2009
Awal tahun baru yang dimulai dengan rasa yang imajiner dan kosong. Untuk sekian kali pipi Rheina basah akan tangisan. Tidak kali ini.
Ia harus bertindak tegas akan segalanya. Termasuk membunuh segala ingatannya akan si doraemon serta orang di baliknya.
Sedih memang tapi tidak mungkin akan terus seperti itu.
"sudahlah" Rheina menghela napas panjang dan meletakkan benda itu ke suatu tempat yang takkan ia lirik lagi.
Pikiran Rheina berkecambuk antara marah dan pasrah. Mungkin sudah takdirnya begini. Mungkin akhir dengan kehadiran "seseorang baru" menjadi segelintir rasa pahit di ujung hubungan. Mungkin Rheina adalah penengah yang akan mengantarkan kekasihnya itu ke tangan yang lain. Tangan yang lebih tepat nan lekat. Rheina mengakui bahwa ini bukan kisah yang kental akan rasa manis. Karena berakhir dengan bisu dan sembilu.
"kepada video yang dibuatkan khusus untukku, buku buatan tangan khusus buatku, lampu doraemon bersama dorami, dan semuanya..terima kasih" sahut Rheina merapikannya dan menyimpannya. "sudah saatnya kalian beristirahat dan bersembunyi untuk waktu yang lama. Sudah lelah kalian bermain di antara senang dan gembiraku"
Rheina terperanjat. Mengucapkan syukur. Bahwa ia masih memiliki berbagai orang di belakangnya. Keluarga dan teman-teman yang tak dapat ia sebutkan satu persatu. Semuanya memiliki peran masing-masing untuk bermain dalam kisah pendek Rheina. Semuanya sebagai protogonis di tengah bagian yang tragis.
"untuk seorang wanita yang sempat menganggap saya adalah perebut lelakimu, ambillah dia. pergilah." Rheina berdeham sejenak. "aku telah memutuskan untuk memilih jalanku sendiri. Sungguh bodohnya aku untuk menunggu keputusan orang lain. Mengharapkan jawaban orang lain. Tidak. Inilah hidupku dan akulah yang putuskan jalanku"
Rheina berjalan pelan, pergi meninggalkan segala pahitnya. "ini akan berubah menjadi manis bila tiba pada waktunya" ucapnya sambil tersenyum getir.
Tuesday, January 11, 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)












